Selasa, 30 Oktober 2012

Legenda dari Sumatera Utara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Asal Usul Lau Kawar

Lau Kawar merupakan sebuah legenda yang berkembang di Kabupaten Karo, oleh karena daerahnya terletak di dataran tinggi, sehingga kabupetan ini dijuluki Tanah Karo Simalem, Kabupaten ini memiliki iklim yang sejuk dengan suhu berkisar antara 16 sampai 17C dan tanah yang subur. Maka tidak heran, jika daerah ini sangat kaya dengan keindahan alamnya. Salah satunya adalah keindahan Danau Lau Kawar, yang terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Air yang bening dan tenang, serta bunga¬-bunga anggrek yang indah, yang mengelilingi danau ini menjadi pesona alam yang mengagumkan.
Menurut masyarakat setempat, sebelum terbentuk menjadi sebuah danau yang indah, Danau Lau Kawar adalah sebuah desa yang bernama 'Kawar'. Dahulu, daerah tersebut merupakan kawasan pertanian yang sangat subur. Mata pencaharian utama penduduknya adalah bercocok tanam. Hasil pertanian mereka selalu melimpah ruah, meskipun tidak pernah memakai pupuk dan obat-obatan seperti sekarang ini. Suatu waktu, terjadi malapetaka besar, sehingga desa Kawar yang pada awalnya merupakan sebuah desa yang subur menjelma menjadi sebuah danau. Apa sebenamya yang terjadi dengan desa Kawar itu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat berikut ini!
Pada zaman dahulu kala tersebutlah dalam sebuah kisah, ada sebuah desa yang sangat subur di daerah Kabupaten Karo. Desa Kawar namanya. Penduduk desa ini umumnya bermata pencahadan sebagai petani. Hasil panen mereka selalu melimpah ruah. Suatu waktu, hasil panen mereka meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Lumbung-lumbung mereka penuh dengan padi. Bahkan banyak dari mereka yang lumbungnya tidak muat dengan hasil panen. Untuk mensyukuri nikmat Tuhan tersebut, mereka pun bergotong-royong untuk mengadakan selamatan dengan menyelenggarakan upacara adat.
Pada hari pelaksanaan upacara adat tersebut, Desa Kawar tampak ramai dan semarak. Para penduduk mengenakan pakaian yang berwarna--warni serta perhiasan yang indah. Kaum perempuan pada sibuk memasak berbagai macam masakan untuk dimakan bersama dalam upacara tersebut. Pelaksanaan upacara juga dimewahkan dengan pagelaran 'Gendang Guro-Guro Aron', musik khas masyarakat Karo. Pada pesta yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, seluruh penduduk hadir dalam pesta tersebut, kecuali seorang nenek tua renta yang sedang menderita sakit lumpuh. Tidak ketinggalan pula anak, menantu maupun cucunya turut hadir dalam acara itu.
Tinggallah nenek tua itu seorang sendiri terbaring di atas pembaringannya. "Ya, Tuhan! Aku Ingin sekali menghadiri pesta itu. Tapi, apa dayaku ini. Jangankan berjalan, berdiri pun aku sudah tak sanggup," ratap si nenek tua dalam hati.
Dalam keadaan demikian, ia hanya bisa membayangkan betapa meriahnya suasana pesta itu. Jika terdengar sayup-sayup suara Gendang Guro-guro Aron didendangkan, teringatlah ketika ia masih remaja. Pada pesta Gendang Guro-Guro Aron itu, remaja laki-laki dan perempuan menari berpasang-pasangan. Alangkah bahagianya saat¬-saat seperti itu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan di masa muda si nenek. Kini, tinggal siksaan dan penderitaan yang dialami di sisa senjanya. la menderita seorang diri dalam kesepian. Tak seorang pun yang ingin mengajaknya bicara. Hanya deraian air mata yang menemaninya untuk menghilangkan bebannya. Ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna, semua orang tidak ada yang peduli padanya, termasuk anak, menantu    serta    cucu
cucunya.
Ketika tiba, saatnya makan siang, semua penduduk yang hadir dalam pesta tersebut berkumpul untuk menyantap makanan yang telah disiapkan. Disana tersedia daging panggang lembu, kambing, babi, dan ayam yang masih hangat. Suasana yang sejuk membuat mereka bertambah lahap dalam menikmati berbagai hidangan tersebut. Di tengah-tengah lahapnya mereka makan sekali-kali terdengar tawa, karena di antara mereka ada saja yang membuat lelucon. Rasa gembira yang berlebihan membuat mereka lupa diri, termasuk anak dan menantu si nenek itu. Mereka benar-benar lupa ibu mereka yang sedang terbaring lemas sendirian di rumah.

Sementara itu, si nenek sudah merasa sangat lapar, karena sejak pagi belum ada sedikit pun makanan yang mengisi perutnya. Kini, ia sangat mengharapkan anak atau menantunya ingat dan segera mengantarkan makanan. Namun, setelah ditunggu-tunggu, tak seorang pun yang datang.

"Aduuuh...,' Perutku rasanya melilit-lilit. Tapi, kenapa sampai saat ini anak-anakku tidak mengantarkan makanan untukku?" keluh si nenek yang badannya sudah gemetar menahan lapar. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mencoba mencari makanan di dapur, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa. Rupanya, sang anak sengaja tidak memasak pada hari itu, karena di tempat upacara tersedia banyak makanan.
Akhirnya, si nenek tua terpaksa beringsut-ingsut kembali ke pembaringannya. is sangat kecewa, tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya. lbu tua itu menangisi nasibnya yang malang.
"Ya, Tuhan! Anak-cukuku benar-benar tega membiarkan aku menderita begini. Di sans mereka makan enak-enak sampai kenyang, sedang aku dibiarkan kelaparan. Sungguh kejam mereka!" kata nenek tua itu dalam hati dengan perasaan kecewa.
Beberapa saat kemudian, pesta makan-makan dalam upacara itu telah usai. Rupanya sang anak baru teringat pada ibunya di rumah. Ia kemudian segera menghampiri istrinya.

"Isriku! Apakah kamu sudah mengantar makanan untuk ibu?" tanya sang suami kepada istrinya.
"Belum?"jawab istrinya.
"Kalau begitu, tolong bungkuskan makanan, lalu suruh anak kita menghantarkannya pulang!" perintah sang suami.
"Baiklah, suamiku!' jawab sang istri.
Wanita itu pun segera membungkus makanan lalu menyuruh anaknya, "Anakku! Antarkan makanan ini kepada nenek di rumah!" perintah sang ibu.

"Baik, Bu!" jawab anaknya yang langsung berlari sambil membawa makanan itu pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, anak itu segera menyerahkan makanan itu kepada neneknya, lalu berlari kembali ke tempat upacara. Alangkah senangnya hati sang nenek. Pada saat-saat lapar seperti itu, tiba-tiba ada yang membawakan makanan. Dengan perasaan gembira, sang nenek pun segera membuka bungkusan itu. Namun betapa kecewanya ia, ternyata isi bungkusan itu hanyalah sisa-sisa makanan!!.
Beberapa potong tulang sapi dan kambing yang hampir habis dagingnya. "Ya, Tuhan! Apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang. Kenapa mereka memberiku sisa-sisa, makanan dan tulang¬-tulang," gumam si nenek tua dengan perasaan kesal.

Sebetulnya bungkusan itu berisi daging panggang yang masih utuh. Namun, di tengah perjalanan si cucu telah memakan sebagian isi bungkusan itu, sehingga yang tersisa hanyalah tulang-tulang.

Si nenek tua yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya, mengira anak dan menantunya telah tega melakukan hal itu. Maka, dengan perlakuan itu, ia merasa sangat sedih dan terhina. Air matanya pun tak terbendung lagi. la kemudian berdoa kepada Tuhan
agar mengutuk anak dan menantunya itu.
"Ya, Tuhan!" Mereka telah berbuat durhaka kepadaku. Berilah mereka pelajaran!" perempuan tua itu memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Baru saja kalimat itu lepas dari mulut si nenek tua, tiba¬-tiba terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Langit pun menjadi mendung, guntur menggelegar bagai memecah langit, dan tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya.

Seluruh penduduk yang semula bersuka-ria, tiba-tiba menjadi panik. Suara jerit tangis meminta tolong pun terdengar dari mana-mana. Namun, mereka sudah tidak bisa menghindar dari keganasan alam yang sungguh mengerikan itu.

Dalam sekejap, desa Kawar yang subur dan makmur tiba-tiba tenggelam. Tak seorang pun penduduknya yang selamat dalam peristiwa itu. Beberapa hari kemudian, desa itu berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air. Oleh masyarakat setempat,
kawah itu diberi Hama 'Lau Kawar'.

Demikianlah cerita tentang Asal Mula Lau Kawar dari daerah Tanah Karo, Sumatera Utara. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pandai mensyukuri nikmat, menjauhi sifat durhaka kepada orang tua, dan menyia-nyiakan amanat.



Lau Kawar Legend

Lau kawar be a legend that bloom at regency karo, by because the region located in plateau, so that kabupetan this is menjuluki soil karo simalem, this regency has cool climate with temperature ranges from 16 until 17c and fertile soil. so bo wonder, if this region is very rich with the nature beauty. one of them lake beauty lau kawar, located in village kuta gugung, cross-ro district, regency karo. clear water and calm, with bunga¬-bunga beautiful orchid, surround this lake is nature enchantment astonishing.

Follow local society, before formed be a beautiful lake, lake lau kawar a village that named 'kawar. formerly, region be agriculture area very fertile. the citizen principal livelihood bercocok plants. their agricultural produce always abundance, although never wear fertilizer and medicines likes this time. a time, happen big disaster, so that village kawar which is on initially be a fertile village incarnates to be a lake. what sebenamya that with village kawar that? want to know the answer? follow the story in folklore follows!

In period yore called in a story, there a village very fertile at regency region karo. village kawar the name. this village citizen is usually knotty pencahadan as farmer. their harvest result always abundance. a time, their harvest result increases twofold from year previous. their rice granaries full of rice. even many from them the rice granary doesn't lo with harvest result. to mensyukuri taste god, they are even also bergotong-royong to hold ceremonial meal with conduct custom ceremony.

On custom ceremony execution, village kawar crowded appear and bright. citizens dresses berwarna--warni with beautiful decoration. class woman in busy cook assorted dish to eaten with in ceremony. also memewahkan with 'drum performance guro aron, society special music karo. in party only carried out one year once that, entire citizens presents in party, except a decrepit grand mother that is sufferring paralysed ill. bot left behind also child, also the grandchild joins in to present in that programme.

Live that old grand mother a self lying above the bed. " yes, god! i thirst for to attend that party. but, is my power this. don't walk, stand even also i not able, " lamentation the old grand mother at heart.

In a state of such, he only can shadow how that party atmosphere the noisy. if heard drum voice hardly seen or heard guro aron sung, ingatlah when does he still adolescent. in drum party guro aron that, adolescent man and woman dances berpasang-pasangan. how does the happy moment like that. but, all that only live memories at youth the grand mother. now, live torture and suffering that undergone at the twilight remainder. la suffer alone desolately. not a even also that want to invite it to speak. only tear stream that accompany it to cause the loss of the load. he is as if felt to like rubbish unnecessarily, everybody bothing that care to him, belong child, son-in-law with the grandchild.

when arrive, moment it have lunch, all citizens that present in party gather to menyantap food that prepared. there available cow roast, goat, pig,  and chicken that still warm. cool atmosphere makes them increase greedy in enjoy various dish. at their the greedy midst eats occasionally heard laughter, because between they are there that make joke. happy taste that overs do to make them lost in, belong child and son-in-law the that grand mother. they genuinely is forget their mother that lying alone choked at home.

meanwhile, the grand mother has felted very hungry, because since morning there is no a little even also food that fill the stomach. now, he is very expect child or the son-in-law remembers and soon see off food. but, after menunggu-tunggu, not a even also that.

" Aduuuh. . . , ' my stomach likely melilit-lilit. but, why till now my children not see off food to me? " complaint the grand mother the body has trembled to hold back hungry. with leavings existing energy, he tries to look for food at kitchen,  but he doesn't get anything. apparently, the child expressly doesn't cook on that, because in place ceremony available many foods.

Final, the old grand mother forced ambles to return to the bed. is very dissapointed, not asa the eye water out from second the eye sheath. lbu old that weep over unlucky the destiny.

" O, god! My son and grandson genuinely bring oneself to let me suffer like this. at sans they eat delicious until full, i am being being let hunger. really cruel they! " that old grand mother word is at heart dissapointed feeling.

A few moments then, party eats in those ceremony finished. apparently the child justs in the mother at home. he is then soon approach the wife.

" My wife! has you deliverred food for mother? " ask the husband to the wife.
" Not yet? " answer the wife.
" If so, please food package, then order our child deliver it toes! " command the husband.
" Ok, my husband! ' answer the wife.
that woman is even also soon wraps up food then order the child, " my child! send this food to grand mother at home! " command the mother.

" Ok, ma! " answer direct the child runs while bring that food returns home.

At arrival at home, that child is soon extradites that food to the grand mother, then run to return to ceremony place. how does the glad heart the grand mother. in moment hungry like that, suddenly there that present food. happy feeling, the grand mother even also soon unwrap that. but how does the dissapointed he, obvious parcel contents it is only leavings food! ! .

Several cut cow bone and goat almost finished the meat. " yes, god! has they consider me beastly. why do they give me leavings, food and bones, " mumble the old grand mother peevish feeling.

Actually that parcel is roast full that still intact. but, in the middle of trip the grandchild has consumed a part that parcel contents, so that remained only bones.

The old grand mother doesn't detect insident actually, estimate child and the son-in-law bring oneself to has done that thing. so, with that treatment, he felts lugbrious and insulted. the eye water even also not dammed again. la then pray in god
so that curse child and that the son-in-law.

" O, god! " they have made rebellious to me. give them lesson! " that old woman requests in god almighty. just that sentence gets mouth the old grand mother, tiba¬-tiba happen earthquake very terrible. sky even also be cloudy, thunder menggelegar as memecah sky,  and a few moment later rain fall the densely.

entire citizens at first bersuka-ria, suddenly be panic. voice screams to cry to ask please even also heard from which. but, they can not avoid from nature cruelty really hair-raising that.

In a moment, village kawar fertile and wealthy suddenly sink. not a even also the citizen congratulation in that event. few days then, that village turns into a big crater that is flooded water. by local society,
that crater is given pest 'lau kawar.

The above is true story about beginning origin lau kawar from soil region karo, north sumatra. story above belong model folklore that contains moral messages. at least there three moral messages that can be picked from story above, that is clever mensyukuri taste, keep away rebellious character to parents,  and muff message.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar