Jumat, 02 November 2012

Sinopsis Novel Para Priyayi


PARA PRIYAYI
SINOPSIS
Cerita ini berawal dari sebuah kota bernama Wanagalih, yang merupakan tempat pertemuan antara Bengawan Solo dan Kali Mediun. Sebuah kota lama yang hadir semenjak pertengahan abad ke-19, kota itu tampak kecil dan begitu-begitu saja. Pohon-pohon asam yang besar-besar dan rindang yang tumbuh berjajar di sepanjang jalan, kini tak ada lagi karena telah terganti oleh pohon akasia yang Nampak lebih ramping. Dinamakan Wanagalih karena kota itu dikepung oleh hutan jati, yaitu dari kata Wana yang berarti htan dan galih yang artinya bagian yang terdalam dan terkeras dari kayu.
Adalah Lantip, seorang anak penjual tempe keliling di Wanagalih. Pada umurnya yang masih kecil, yaitu 6 tahun, ia dititipkan emboknya yang bernama Ngadiyem di rumah keluarga Sastrodarsono, keluarga priyayi terpandang di kabupaten. Ia sudah dianggap anak di rumah besar tersebut.
Waktu beliau masih kecil, namanya adalah Soedarsono, anak tunggal Atmokasan seorang Petani di desa Kedungsimo. Kemudian saat beliau dewasa dan sudah pantas, tidak hanya pantas, namun memiliki syarat-syarat sebagai seorang priyayi, maka oleh Pakde nya namanya di ubah menjadi Sastrodarsono. Pada saat beliau telah dewasa, beliau di nikahkan dengan dek Ngaisah, putri dari Bapak Mukaram yang juga memiliki background Priyayi, sehingga ketika mereka berumah tangga, si istri benar-benar siap dan bisa mendampingi suaminya yang seorang priyayi itu. Setelah pernikahan telah dilakukan mereka tinggal Ploso selama setahun kemudian pindah ke kedunsimo tinggal bersama bapak dan ibu ndoro Seten yang seketika itu menganggapnya sebagai anak. Didepan rumahitu terdapat pohon nangka yang besar-besar buahnya. Tak arang para tetangga di persilahkan untuk egambil nangka sekiranya butuh, pohon itu Nampak kuat, dan besar.Sastrodarsono benar-benar seorang ayah yang bijak dan pamong yang mampu mengayomi warga di sekitarnya. Ia bukanlah turunan priyayi. Status priyayi diperolehnya dengan kerja keras yang luar biasa. Pendidikan tinggi menjadi kendaraannya agar masuk sebagai kelompok priyayi.
Bersama istrinya Ngaisah Sastrodarsono membangun keluarga priyayi. Sastrodarsono bukanlah priyayi yang hanya duduk menikmati kemewahan yang dimilikinya. Ia masuk ke pelosok pedesaan, membangun sekolah rakyat, dan memercikkan kebijakan bagi warga sekitar bersama ketiga anak dan sepupu-sepupu baik dari pihaknya maupun dari pihak Dik Ngaisah. Ia juga menanamkan jiwa priyayi yang kuat bagi ketiga anaknya untuk selalu berada di jalan yang benar.
Keluarga Sastro Darsono perlahan berhasil membangun keluarga priyayi mereka sendiri. Kelahiran tiga anak mereka, yaitu Noegroho, Hardoyo dan Sumini menambah lengkap keluarga priyayi mereka. Semua anak mereka pun sukses megikuti jejak Sastro Darsono menjadi seorang priyayi. Noegroho yang menjadi Guru HIS kemudian banting setir ikut PETA pada jaman pendudukan Jepang, dan kemudian pindah menjadi perwira TNI pada jaman kemerdekaan. Hardoyo, menjadi seorang abdi Mangkunegaran dan menantunya Harjono (suami Soemini) seorang Asisten Wedana. Dalam perjalanan hidup keluarga Sastrodarsono tidak selalu mulus. Berbagai masalah menghadang mereka. Yang pertama dimulai dari Keluarga nugroho yang menikah dengan Suz dikaruniai tiga orang anak bernama Toni, Marie, dan Tommi. Anak pertamanya meninggal karena ikut perang melawan PKI, lalu dengan meninggalnya anak sulung yang bernama Toni itu timbul sebuah perasaan takut kehilangan anak lagi, maka mereka memanjakan anak-anaknya. Hingga akhirnya anak kedua mereka yang bernama Marie itu hamil karena pergaulan bebas, ia hamil anak Maridjan, seorang lelaki yang lebih muda darinya, namun telah memiliki istri dan anak satu sebelum menghamili Marie. Lanjut demi lanjut, mereka pun akhirnya di nikahkan dan dikaruniai dua irang anak. Dan kelihatanya kegagalan pendidikan juga terjadi pada anak ketiganya yang bernama Tommi yang acuh tak acuh pada setiap masalah.
Yang kedua masalah pada anak tunggal Hardojo hasil pernikahannya dengan Srimurti yang bernama Hari yang akhirnya juga menghamili teman satu kampus juga satu organisasi, tidak cukup itu, kesedihan juga melanda saat Gadis, nama kekasihnya Hari harus menempuh hukuman penjara dalam keadaan hamil. Saat keluarga Hari memberikan pertolongan untuk Gadis, yaitu membebaskannya menjadi tahanan rumah seperti yang di alami Hari sebelumnya, ternyata ia meninggal beberapa hari yang lalu dengan dua anak kembarnya. Kepedihan sangat terasa.
Dan yang terakhir adalah Soemini. Masalah tentang suaminya, Harjono yang kepincut dengan teman rekan kerjanya. Namun pada akhirnya bisa di selesaikan.
Sekian lama, tiba waktunya Ngaisah meninggal tiga tahun sebelum Sastrodarsono jga akhirnya meninggal. Sebelum hari-hari kematian Sastrodarsono atau lebih akrab di sapa dengan sebutan Eyang Kakung itu, pohon nangka yang telah ada saat mereka awal berumah tangga pun juga ikut roboh. Itulah tanda-tanda sebelum akhirnya Eyang Kakung itu meninggal.
Dalam cerita ini yang patut disebut sebagai Priyayi yang sesungguhnya Adalah Lantip. Meski ia adalah anak haram hasil hubungan Soenandar dan ibu kandungnya Ngadiyem, namun ia berhasil menjadi seorang priyai yang sebenarnya. Terlihat dari ketulusan dan kesediaannya membantu para anggota keluarganya. Namun ia tak bangga dengan semua tu. Cerita ini di tutup dengan peristiwa ia mengajak tunangannya, calon istrinya yang bernama Halimah itu ke makam Embok dan Embahnya dengan perasaan yang bahagia.


Sinopsis Novel yang lain baca di Daftar Entry >>>>
(Thanks For Visiting)
www.edyindo.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar