Sabtu, 03 November 2012

SINOPSIS NOVEL DIAN YANG TAK KUNJUNG PADAM


SINOPSIS NOVEL
DIAN YANG TAK KUNJUNG PADAM

Sutan Takdir Alisjahbana


Di kawasan Gunung Megang, dekat kota Palembang, tinggalah pemuda Yasin dengan ibunya. Ayahnya telah meninggal. Pada suatu hari ia berperahu ke Palembang dan bertemu pandang dengan seorang gadis jelita bernama Molek. Gadis itu putrid bangsawan di Palembang. Keduanya jatuh hati. Molek selalu teringat kegagahan Yasin, dan secara tak sadar Molek mulai suka berdandan. Begitu juga Yasin menjadi gelisah terbayang wajah Molek. Pada suatu hari Yasin dan ibunya diundang ke perhelatan perkawinan saudaranya, Madjid di Penaggiran. Selama menghadiri upacara perkawinan ini Yasin selalu teringat Molek.

Sepulang dari pesta perkawinan, Yasin memberanikan diri memohon kepada ibunya agar boleh menemui Moiek. Yasin kemudian menulis surat cinta kepada Molek dengan jalan
menyelipkan surat itu di tempat mandi kekasihnya. Molek terkejut ketika mendapatkan surat Yasin, namun kegembiraan jelas terpancar dari wajahnya. Molek kemudian membalas surat cinta Yasin dan menyatakan keteguhan hatinya menerima cinta Yasin.

Maka tibalah keberanian Yasin untuk meminang Molek. Hal ini dipertimbangkannya dengan pesirah Thalib yang menikahkan Madjid dahulu. Lamaran pun diajukan. Tetapi
orang Tua Molek, yakni R. Makhmud, adalah seorang bangsawan yang berharta. R. Makhmud marah besar menerima lamaran Yasin orang Uluan itu. Yasin pulang dengan hati yang hancur. Maka ditulisnya surat kepada Molek "bahwa seolah-olah ia hendak melepaskan Molek saja. Namun Molek membalas surat Yasin bahwa ia akan tetap setia kepada Yasin dalam cinta. Yasin diminta menunggu dengan sabar saja.

Sementara itu seorang pedagang kaya keturunan Arab datang melamar Molek kepada orang tuanya. Nama pedagang itu ialah Sayid Mustafa. R. Makhmud dengan gembira menerima lamaran pedagang ini. Mengetahui bahwa ayahnya telah menerima lamaran orang Arab itu, maka Molek berusaha melarikan diri. Namun usahanya gagal.

Kemudian Molek dinikahkan dengan Sayid Mustafa yang sudah cukup berumur itu. Molek menerima kenyataan ini, meskipun cintanya tetap pada kekasihnya, Yasin.

Kehidupan rumah tangga Molek sengsara. Ia selalu kesepian karena suaminya jarang berada di rumah. Rasa sepi dan terkurung itu lebih terasa lagi ketika ayah bundanya
pergi naik haji. Suami Molek sebenamya mengawininya hanya demi harta benda yang dimiliki orang tuanya. Dalam kesepian dan kesedihan itu, tubuh Molek mulai melayu. Dan dalam saat kesepian demikian itu terlebih-lebih lagi Molek teringat pada Yasin. Maka ketika ia sendirian di rumah, ditulisnya surat kepada Yasin. Molek menyatakan dalam surat itu, bahwa ia ingin benar bertemu dengan Yasin. Dengan menyamar sebagai pedagang nanas, Yasin dapat menemui kekasihnya, Molek. Pertemuan yang penuh kerinduan itu ditutup dengan pemyataan Molek bahwa rohnya adalah tetap milik Yasin selamanya, hanya tubuhnya saja milik suaminya.

Tak lama kemudian setelah pertemuan yang mengharukan itu, Molek jatuh sakit dan meninggal dunia. Yasin sangat hancur hatinya. Dan sebagai penghormatan terhadap
mendiang kekasihnya, Yasin bekerja keras membanting tulang. Dan setiap hari Yasin mengunjungi kubur Molek, di sana ia mendoakan arwah Molek dan berkirim salam kepadanya.

Setelah ibu Yasin meninggal dunia juga, maka tak ada lagi penghiburan atas penderitaan batinnya. Maka Yasin akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai pertapa di gunung
Semenung. Dunia tidak memberikannya kebahagiaan, dan ia mencoba untuk meraihnya dengan jiwa dan rohnya.


Sinopsis Novel Sang Pencerah

Sinopsis
Novel “Sang Pencerah”

Judul         : Sang Pencerah
Penerbit    : Mizan
Penulis      : Akmal Nasery Basral
Kategori    : Novel Roman Dewasa

Selama ini kita mungkin sangat akrab dengan KH. Ahmad Dahlan, namun cerita mengenai beliau belum begitu banyak kita ketahui. Buku yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral ini pun berusaha menghadirkan kisah tentang kehidupan KH. Ahmad Dahlan, sisi manusiawinya yang belum banyak kita kenal, kehidupannya semenjak kecil hingga suka duka yang dialaminya, dilema-dilema batin dan pemikiran-pemikiran terdalamnya.

Novel yang berkisah tentang kehidupan KH. Ahmad Dahlan dan perjuangannya dalam mendirikan Muhammadiyah ini diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Dan diluncurkan berdasarkan skenario film Sang Pencerah karya sutradara Hanung Bramantyo.

Buku ini juga berisikan kontroversi seorang sosok pendobrak tradisi, yang tak lain berniat agar Islam kembali menjadi rahmat bagi semesta alam, bukan Islam yang menyulitkan pemeluknya sendiri. Bahkan pada masanya beliau sempat dianggap kafir. Tetapi beberapa orang yang berfikiran terbuka dan anak-anak muda kritis banyak yang menyukai caranya tersebut.

Menurut sang penulis, ada beberapa buku biografi atau sejarah mengenai sosok kontroversial yang mengagumkan ini. Namun tidak banyak yang bisa ikut menyelami kehidupan langsung dari sang tokoh kharismatik yang bernama asli Muhammad Darwis ini. “Memahami sepak terjang KH. Ahmad Dahlan sungguh menarik jika dilakukan dengan cara yang luwes, cair dan penuh muatan emosi dan semuanya akan terjawab di novel setebal 480 halaman ini,” ujarnya.

Sang sutradara sekaligus penulis skenario dari Film Sang Pencerah, Hanung Bramantyo, mengungkapkan bahwa setiap kejadian yang berpengaruh dalam hidup KH. Ahmad Dahlan diteliti secara seksama dan menyeluruh, baru kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa yang asyik dan enak dibaca. Sehingga menghasilkan sebuah kisah yang begitu cerdas dan begitu nyata. “Kita pun seolah-olah diajak langsung berhadapan dengan kisah yang bersettingkan pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII di Yogyakarta ini,” tuturnya.


Beberapa kisahnya tersebut seperti gejolak batin dan jiwa dari si Darwis kecil, hingga pertanyaan-pertanyaan yang pernah hinggap di benaknya. Semua diungkapkan penulis dengan begitu simpatik dan menarik. Namun, sejarah tidak akan pernah sama jika dikisahkan dari kacamata seorang novelis, namun tidak keluar dari konteks sejarah tersebut.

Selain untuk mengenang Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, hadirnya buku Sang Pencerah ini diharapkan mampu menjadi kado milad ke-100 bagi warga Muhammadiyah dimanapun berada. Tak heran jika buku yang satu ini sangat tepat untuk dijadikan referensi bahan bacaan maupun koleksi perpustakaan pribadi dirumah kita.

Disini kita akan menyaksikan seorang Ahmad Dahlan yang dilahirkan dari kalangan keluarga biasa bisa tumbuh menjadi orang yang sangat luar biasa. Judul Sang Pencerah ini sendiri pun diambil dari inspirasi matahari yang dapat mencerahkan masyarakat.

Sinopsis Novel BERTEMAN DENGAN KEMATIAN


SINOPSIS NOVEL
BERTEMAN DENGAN KEMATIAN   

Hmm.. baru tadi Siang saya di ceritakan oleh Teman saya Hanita Nurilina Dini, waktu beberapa Minggu kemarin Ia ke Toko buku Gramedia ada sebuah buku kalau menurut saya Novel ini mirip seperti SKUT (Surat Kecil untuk Tuhan) hanya saja perbedaan kalau Keke penderita Kanker, sedangkan Sinta Ridwan penderita Lupus (Odapus).. dari situ saya mulai tertarik dan Mendengarkan pembicaraan teman sebangku saya,,
Ok, saya Ceritakan Sedikit Sinopsis tentang Novelnya :
" Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi"

SATU kata yang patut ditiru dari gadis 25 tahun ini, "semangat". Ya, di antara hari-harinya yang dibayangi penyakit lupus, Sinta Ridwan tak pernah patah semangat untuk membuat banyak karya. Menulis puisi, dan novel menjadi salah satu bagian hidupnya. Kajian naskah kuno pun jadi pilihannya untuk dieksplorasi.
Dan benar kata Bung Chairil Anwar. Aku mau hidup seribu tahun lagi...
DEMIKIAN Sinta Ridwan menulis di halaman terakhir bukunya, Berteman dengan Kematian Catatan Gadis Lupus (Ombak2Oio). Sebuah penutup yang terasa berbeda dengan judul buku tersebut. Namun, tampaknya gadis cantik kelahiran Cirebon n Januari 1985 ini, merasa perlu menutup bukunya dengan cara seperti itu untuk melukiskan semangat hidupnya. Meski tahu, sebagai orang pengidap lupus (odapus) ia setiap hari harus berteman dengan ancaman kematian melalui penyakit yang terus mengancam berbagai organ tubuhnya.

Buku ini diluncurkan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung, Minggu 9 Mei 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Lupus Sedunia. Lewat buku yang ditulis dengan gaya catatan harian itu, Sinta tak hanya menuturkan ihwal penyakit lupus dan bagaimana mulanya ia divonis menjadi seorang odapus. Akan tetapi, nyaris mengisahkan seluruh dirinya, dari masa kecil, perceraian kedua orang tuanya, kematian orang-orang yang disayanginya, perjuangannya bekerja keras di Bandung, gaya hidup, hingga perubahan besar pada dirinya dalam memandang hidup ketika lupus bersarang dalam tubuhnya.

Dan satu hal yang amat terasa dalam buku ini adalah semangat hidup. Semangat seorang gadis yang sejak remaja ditempa oleh berbagai pengalaman pahit. Tak cukup hanya penderitaan psikologis akibat keluarganya yang berantakan, penderitaan fisik akibat lupus pun harus diterimanya. Dan itu terjadi ketika ia sedang tumbuh sebagai seorang mahasiswi yang penuh dengan cita-cita.Namun, lupus tidaklah lantas menyurutkan semangat hidup dan cita-citanya. Meski penyakit yang belum ada obatnya ini telah menyerang tubuhnya, setamat menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah tinggi bahasa, sambil bekerja, Sinta meneruskan pendidikannya ke Pascasarjana Jurusan Filologi Unpad. Kini, sambil menyelesaikan tesisnya, ia masih terus menulis puisi. "Secangkir Bintang" merupakan kumpulan puisinya yang pertama.

Semangat ini pula yang terasa dalam gaya penulisan bukunya. Seluruh penderitaan sampai yang paling mendebarkan sekalipun, ditulis dengan gaya khas anak muda. Polos, santai, penuh celetukan konyol, dan jauh dari tujuan mendramatisasi nasib demi mendapat empati, apalagi untuk minta dikasihani. Justru dengan cara seperti inilah kesedihan itu amat terasa. Kebersahajaan dan kepolosan seorang-gadis menuturkan penyakit yang mengancam jiwanya, tanpa sedikit pun ia mengeluh.Ingin menulis novel

Bersahaja dan polos, begitulah Sinta Ridwan dalam kesehariannya. Berpakaian santai, selalu berbicara diiringi senyum, kadang terkesan manja dan agak cerewet. Namun sesekali ia bisa bicara penuh semangat, terutama tentang nasib naskah-naskah kuno yang tak terawat dan banyakdi perjualbelikan ke negara asing. Atau tentang aksara Sunda, perjalanannya meneliti naskah kuno ke berbagai kota di Kalimantan, cita-citanya meneruskan studi ke Leiden Belanda, atau mendirikan perpustakaan naskah-naskah Nusantara. Termasuk ceritanya tentang Naskah Wangsaker-ta.

"Saya ingin menulis novel tentang Wangsakerta,"ujar gadis manis ini bersemangat. Wangsakerta merupakan seorang pangeran Cirebon yang merupakan tokoh penting dalam proses penulisan sejarah Nusantara tahun 1698.Memang aneh, di tengah kegandrungan anak-anak muda memilih studi bidang keilmuan yang mudah mendapatkan lapangan kerja, gadis yang pernah menjadi pemain sofbol dan vokalis group band di Cirebon ini, memilih bidang studi filologi yang melulu mengurusi naskah kuno. Alasan ia memilih kajian sastra kuno atau filologi tak bisa dilepaskan dari kesukaannya pada sastra. Di bidang yang satu ini, gadis yang sebelumnya perokok dan suka begadang ini telah menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul "Secangkir Bintang".

Dengan mengesplorasinaskah naskah kuno, gadis ini juga berharap bahwa suatu hari ia bisa menjadi pengajar atau peneliti yang bisa berkeliling dunia.Karena itulah, puisi dan nasib naskah-naskah kuno, merupakan topik obrolan yang paling disukainya. Bahkan, jika ia sedang bercerita tentang naskah-naskah kuno tampak bahwa pembicaraan itu lebih menarik baginya ketimbang membicarakan penyakit lupus yang ada dalam tubuhnya. Sinta menuturkan bahwa ia kerap merasa kurang nyaman berada di tengah berbagai kegiatan perkumpulan pengin-dap penyakit yang dilembagakan.
Namun ia merasa terpanggil jika ada orang yang mengajaknya membicarakan kasus penyakit lupus.Tapi saya harus mempersiapkan mental agar saya tidak terpancing ke dalam suasana yang menyedihkan, sehingga membuat saya sendiri jadi gelisah dan cemas. Saya harus menerima semuanya dengan lapang dada. Dulu ketika saya divonis mengidap lupus saya marah dan kecewa sekali.

Tapi sekarang ia saya jadikan teman," katanya. Sejak ia divonis mengin-dap lupus tahun 2006, Sinta giat mencari tahu tentang penyakit tersebut. Dari mulai pengalamannya sendiri, konsultasi dengan para dokter yang merawatnya, hingga mencari berbagai buku dan referensi di internet. Karena penyakit mengerikan ini dalam dunia medis belum ada obatnya, maka bagi Sinta obat itu harus ada dalam diri seorang odapus. Dan itu adalah se-mangat hidup dan merasa berbahagia."Saya ingin sekali merasakan obat itu, karena saya ingin sembuh. Dan obat itu adalah kebahagiaan," ujarnya dengan semangat.
Akan tetapi bagaimanakah memunculkan bahagia sedangkan lupus terus menyerang organ tubuh dengan ancaman kematian? Tentu saja tak mudah, terlebih lagi kebahagian itu sangat relatif.Demikian pula bagi Sinta. Namun baginya, sebagai odapus kebahagianitu adalah dengan memaknai hidup dan menghargainya.
Tentu manusiawi sekali jika ia pun merasa takut pada kematian. Akan tapi, seperti juga pada penyakitnya Sinta memandang ketakutan pada kematian itu sebagai teman. Dan itulah yang membuatnya bisa memandang ke arah sebaliknya, ke arah bagaimana menghargai dan memaknai hidup dengan sebuah semangat." Saya masih ingin hidup. Hidup harus hidup. Tapi jika memang kematian itu akhirnya datang, yang saya takutkan hanyalah saya mati sendirian tanpa ada siapa pun," ujar gadis yang hingga sekarang keluarganya belum tahu bahwa ia mengidap lupus. (Ahda Imran)"*

Sinopsis Novel Dia Tanpa Aku


Sinopsis Novel “Dia Tanpa Aku”

Ronald, cowok kelas 2 SMA, sudah lama naksir Citra yang masih kelas 3 SMP. Tapi Ronald belum mau PDKT. Ia mau menunggu Citra masuk SMA, maka dari itu sepulang sekolah  Ia selalu mengajak sahabatnya, Andika ke sekolah Citra untuk mengamati Citra dari kejauhan. Segala informasi-informasi seputar Citra seperti hobi, cita-cita dan bahkan foto tersimpan di buku catatannya. Keisengan Citra lah yang mempertemukannya dengan Ronald, tapi hanya sebatas pertemuan dan Citra tidak sempat tau nama Ronald.
Waktunya menyambut Citra di SMA untuk mengungkapkan isi hatinya telah di persiapkannya dengan menabung uang untuk membeli baju dan sepatu khusus yang akan di persembahkannya untuk Citra, bahkan Ia rela membawa lontong dan bakwan udang ke sekolah untuk di jual kepada teman-temannya.
Saat yang di tunggu Ronald selama berbulan-bulan akhirnya tiba. Citra masuk SMA. Namun Ronald kecewa karena ternyata Citra masuk ke SMA yang sama dengan adiknya, Reinald dan sekelas pula. Ronald memutuskan untuk menemui Citra alasannya karena Ia takut keburu direbut orang. Namun keinginan dan harapan Ronald untuk menemui Citra tidak terwujud.  Di temani Andika, Ronald pergi ke rumah Citra. Tepat di depan gang rumah Citra, Andika menyerahkan buket bunga yang masih mekar. Usai itu Ronald berbalik dan semuanya seakan menjadi hitam, kelam dan tenggelam. Ronald tewas ketika mobil sedan dengan kecapatan maksimum datang dari arah yang tak di duga.
Sejak kematian Ronald, Reinald sangat terpukul. Sempat timbul kebencian di hati Reinald pada Citra. Reinald selalu menganggap kalau Citra lah yang membunuh abangnya. Kebencian Reinald mulai membara ketika Citra berdiri di hadapannya, tetapi sebelum Citra berbicara. Ia mengajak Citra untuk datang kerumahnya. Di rumah, Reinald mengingatkan Citra kembali pada Ronald dengan menyerahkan foto Ronald, karena sebelumnya Ronald pernah menolong Citra karena keisengannya. Namun Citra sedikit pun tidak mengingat wajah itu.
Keesokan harinya, Reinald menyuruh Roni pindah tempat duduk bersama Loni dan Reinald sendiri duduk dengan Citra. Hari demi hari di lewati Citra di temani Reinald. Tidak pernah sedikit pun Citra lepas dari pengetahuaanya. Kadang-kadang Citra bosan dan ingin memberontak, tetapi Reinald tak merespon itu.
Suatu hari Citra lupa membawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan. Citra langsung panik.  Namun kepanikan itu mereda ketika Reinald menyodorkan buku cetaknya pada Citra. Alhasil, saat jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Reinald dihukum keluar kelas karena tidak membawa buku cetak.
Hari-hari dihadapi Citra dengan senyuman di temani Reinald. Kini Ia tidak takut keisengannya membuat Ia sial. Karena ada Reinald yang selalu berada di sampingnya. Namun bayang-bayang Ronald terus mendatangi Reinald. Akhirnya Ia memutuskan agar tidak dekat pada Citra. Mulai dari berangkat sekolah, ke kantin, duduk dan aktivitas lain yang biasa mereka lakukan bersama kini tidak lagi berjalan dengan kebersamaan. Reinald selalu mencari alasan agar Ia tidak dekat dengan citra. Hingga Citra merasa bingung dan kesepian.
Kesendirian itu tidak berlansung lama saat Reinald menyadari bahwa bukan Citra penyebab kematian abangnya.  Hingga pada suatu saat, Reinald mengajak Citra ke rumahnya untuk belajar bahasa inggris karena ada ulangan. Ternyata bukan Cuma mereka berdua di rumah melainkan ada Andika juga.
Sebelum belajar,  Citra menyuruh Reinald menyetel radio. Dengan malas Reinald meminjam radio ke kamar Bi Minah, pembantunya. Reinald mulai memutar-mutar turning. Tiba-tiba gerakan tangannya berhenti. Samar-samar di dengarnya lagu Gleen-Dewi yaitu lagu kesukaan abangnya.
Ketika lagu itu berakhir, suara sang penyiar cewek lansung membuka pembicaraan. Ia memberi tahu bahwa ada tamu di studionya yang di undang atas permintaan pendengar. Suara itu seperti tidak asing di telinga Reinald. Suara itu persis dengan suara almarhum abangnya. Sang tamu itu mulai menceritakan kisah cinta pertamanya yang tidak pernah terwujud dan juga bercerita tentang adik lelakinya. Ia memiliki gebetan bernama Devi bukan Citra.
Sesaat setelah cerita itu berakhir, Samar-samar terdengar lagu yang sama ketika di awal perjumpaan tadi disusul dengan suara sang penyiar yang mengatakan siapapun yang ingin berinteraksi langsung dengan sang tamu, ada satu nomor telepon yang bisa dihubungi.
Di deringan pertama, sang tamu langsung menjawab Citra. Mereka berbicara sangat akrab. Ketegangan Reinald bertambah saat Citra memberi hp nya pada Reinald dari perintah sang tamu. Di telepon sang tamu berpesan agar selalu menjaga Citra dan sang tamu juga bilang bahwa Ia sayang dengn Reinald. Kata-kata itu jelas berarti bahwa tamu itu adalah Ronald, almarhum abangnya.
Keesokannya Reinald mengajak Citra ke makam abangnya. Reinald menjelaskan semuanya kepada citra. Tapi Citra hanya bisa diam membungkam. Mereka hanya bisa menyampaikan doa bagi seseorang yang kini dipeluk bumi dan tidur dalam diam.

Sinopsis Novel Pada Sebuah Kapal


sinopsis novel "Pada Sebuah Kapal" angkatan 66


IDENTITAS NOVEL
Judul               : Pada Sebuah Kapal
Karangan         : NH. Dini
Cetakan            : Kedua, Tahun 1988
Tebal               : 350  halaman

Sinopsis novel “Pada Sebuah Kapal”
Sri dilahirkan dari keluarga sederhana yang sangat menyenangi seni. Ayahnya adalah seorang pelukis. Sejak kecil, dia dimasukkan ke sekolah tari. Sri adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Mereka hidup dengan rukun di sebuah desa kecil yang terdapat di Semarang.
Saat umurnya tiga belas tahun, ayahnya meninggal dan setelah selesai sekolah menengah atas, Sri bekerja sebagai penyiar radio yang terdapat di kotanya.selama tiga tahun menjadi penyiar radio, ia mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya. Sri mencoba mengikuti pendidikan pramugari yang ada di kota tersebut dan akhirnya mendapat kesempatan untuk diuji di Jakarta. Tapi sayang, ia tidak lulus menjadi pramugari disebabkan adanya penyakit yang terdapat di dalam paru – parunya. Setelah berobat, Sri harus istirahat selama tiga bulan dan ia memilih sebuah desa di Salatiga untuk menyembuhkan penyakitnya.
Setelah sembuh, Sri mencoba untuk hidup di Jakarta walaupun tidak menjadi pramugari. Ia yakin dengan bakat yang dimilikinya ia dapat hidup di Jakarta. Ia tinggal di rumah pamannya yang sebelumnya ditempati oleh kakaknya, Sutopo yang telah lebih dulu ke Jakarta. Kini Sutopo telah mempunyai rumah di Jakarta.
Di Jakarta ia bekerja sebagai penyiar radio dan penari untuk acara – acara istana. Di gedung latihan itu, Sri menyukai seorang laki – laki. Namanya Basir. Tapi perasaannya bertepuk sebelah tangan. Di sisi lain, Yus sangat mencintainya dan ingin menikah dengannya. Tapi Sri tidak begitu menyukai Yus, karena komunis. Selain itu ada Narti, teman kecil Sri waktu sekolah dasar yang sekarang menjadi pramugari. Narti sering main ke rumah paman Sri untuk mengunjunginya. Narti memperkenalkan kedua teman yang bekerja di angkatan udara kepada Sri, mereka bernama Saputro dan Mokar.
Pertemanan Sri dan Suparto awalnya biasa – biasa saja. Seperti biasanya, sikap Saputro sangat lembut dan perhatian. Dari sikapnya itu, Sri mulai jatuh hati dengan sosok Saputro. Kedekatan antara Sri dengan Saputro semakin dekat setelah mereka bertemu di acara Malam Kesenian Kongres Pemuda se-Asia. Dari pertemuan itulah, keduanya yakin kalau mereka saling mencintai. Saputro memiliki jadwal penerbangan yang tidak menentu sehingga kedatangannya tidak dapat diperkirakan oleh Sri. Setelah Saputro selesai mengikuti pendidikan di Cekoslovakia, mereka memutuskan untuk tunangan dan segera menikah. Setelah kembali dari Cekoslovakia, Saputro menemui Sri dan memberikan sebuah cincin sebagai tanda pengikat diantara mereka. Malam itu pun mereka habiskan bersama.
Sepuluh bulan setelah wafatnya Sutopo, Sri memutuskan akan menikah dengan Charles yang berkebangsaan Perancis. Charles adalah seorang diplomat yang sangat tertarik dengan kebudayaan. Keputusannya untuk menikah dengan Charles ditentang oleh keluarga, terutama Sutopo. Kakaknya itu tidak setuju kalau Sri menikah dengan Charles. Sutopo yakin Sri tidak akan bahagia menikah dengan Charles karena Sri belum begitu mengenal Charles. Namun Sri tidak peduli dengan nasehat keluarga. Ia tetap menikah dengan Charles dan kewarganegaraannya menjadi Perancis. Setelah menikah, mereka bermukim di Kobe, Jepang. Kehidupan rumah tangga Sri tidak bahagia, Charles yang pada awalnya baik, perhatian sebelum menikah, kini berubah menjadi seorang yang pemarah, pelit, dan suka membentak – bentak. Sri yang sejak awal tidak mencintai Charles, menjadi semakin benci karena sikap yang ditunjukan Charles. Dari Charles, Sri melahirkan seorang anak perempuan.
Pada kesempatan liburan, Charles mengajak anak dan istrinya untuk melakukan perjalanan ke beberapa Negara. Setelah dari Indonesia, mereka berangkat ke Saigon. Di sana Charles Menyuruh kepada istrinya untuk melakukan perjalanan dengan kapal. Sementara dirinya akan mengunjungi beberapa Negara yang akan dikunjunginya. Sri tidak keberatan melakukan perjalanan dengan kapal berdua dengan anaknya yang masih berumur dua tahun. Karena dia tidak pernah mengharapkan suaminya yang pemarah itu. Hanya kewajibanlah yang mengikat Sri untuk setia terhadap suaminya.
Perjalanan dari Saigon menuju Marseille membutuhkan waktu yang lumayan lama, sekitar tiga bulan. Di kapal itulah Sri bertemu dengan Michel, seorang komandan kapal yang juga kecewa dengan istrinya. Sejak pertama melihatnya, Sri sudah tertarik karena sikapnya dan pada beberapa kesempatan, mereka bertemu. hubungan antara Sri dengan Michel semakin dekat setelah acara pesta dansa. Sejak itu mereka sering bertemu dan cinta pun tumbuh diantara mereka berdua. Awalnya Sri berpikir untuk selalu setia terhadap suaminya yang tidak pernah dicintainya, tapi Sri juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan. Dia sangat mencintai Michel, dan Michel pun demikian. Sosok Michel mengingatkan Sri pada cintanya yang telah hilang. Selama perjalanan itulah dia menemukan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah dirasakan olehnya.
Setelah sampai di Marseille, Charles sudah menunggunya dan Sri pun harus berpisah dengan kekasihnya Michel. Setelah pekerjaan suaminya selesai, mereka kembali ke Kobe. Kehidupan Sri berjalan seperti biasanya. Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya Michel mengabarkanakan lewat telegram bahwa dia akan ke Yokohama. Sri sangat gembira mendengar kabar ini. Akhirnya Michel dan Sri bertemu, mereka saling mencintai dan pada kesempatan – kesempatan yang jarang itu mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sri dan Michel menyadari akan keterikatan mereka terhadap pernikahan yang mereka jalani dengan pasangan masing – masing. Namun keadaan itu tidak menghalangi cinta keduanya. Sri sadar akan kehidupan Michel, dan dia akan selalu mencintai Michel.